Pages

Rabu, 12 Maret 2014

Reliabilitas

Pengertian Reliabilitas
Kata reliabillitas dalam bahasa Indonesia di ambil dari reliability dalam bahasa inggris, berasal dari kata, reliable yang artinya dapat di percaya. “reliabilitas” merupakan kata benda, sedangkan “reliable” merupakan kata sifat atau keadaan.
Reliabilitas merupakan penerjemahan dari kata reliability yang mempunyai asal kata rely dan ability. Pengukuran yang memiliki reliabilitas tinggi disebut sebagai pengukuran yang reliabel (reliable).Walaupun reliabilitas mempunyai berbagai arti seperti kepercayaan, keterandalan, keajegan, kestabilan dan konsistensi, namun ide pokok yang terkandung dalam konsep reliabilitas adalah sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya.
Dari beberapa pengertian di atas jadi reliabilitas tes marupakan suatu alat ukur yang digunakan untuk mengetahui konsistensi pengukuran tes yang hasilnya menunjukan keajegan.Seorang dikatakan dapat di percaya apabila orang tersebut berbicara ajeg, tidak berubah-ubah pembicaraannya dari waktu ke waktu.Dalam sebuah tes pentingnya diamati keajegan dan kepastian tes tersebut dilihat dari hasil tes yang didapat.

Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Reliabilitas
1.    Jumlah butir soal
Banyaknya soal pada suatu instrumen ikut mempengaruhi derajat reliabilitasnya. Semakin banyaknya soal-soal maka tes yang bersangkutan cenderung semakin menjadi reliabel.
2.    Homogenitas Soal Tes
Soal yang memiliki homogenitas tinggi cenderung mengarah pada tingginya tingkat realibilitas. Dua buah tes yang sama jumlah butir-butirnya akan tetapi berbeda isinya, misalnya yang satu mengukur tentang pengetahuan kebahasaan dan yang satunya tentang kemampuan fisika akan menghasilkan tingkat reliabilitas yang berbeda. Tes fisikan cenderung menghasilkan tingkat reliabilitas yang lebih tinggi daripada tes kebahasaan karena dari segi isi kemampuan menyelesaikan soal fisika lebih homogen  daripada pengetahuan kebahasaan.
3.    Waktu Yang diperlukan untuk menyelesaikan Tes
Semakin terbatasnya waktu dalam pengerjaan tes maka akan  mendorong  tes untuk memiliki reliabilitas yang tinggi.
4.    Keseragaman Kondisi Pada Saat Tes Diberikan
Kondisi pelaksanaan tes yang semakin seraga akan memunculkan reliabilitas yang makin tinggi.
5.    Kecocokan Tingkat Kesukaran Terhadap Peserta Tes
Bahwa soal-soal dengan tingkat kesukaran sedang cenderung lebih reliabel dibandingkan dengan soal-soal yang sangat sukar atau sangat mudah.
6.    Heterogenitas Kelompok
Semakin heterogen suatu kelompok dalam pengerjaan suatu tes maka tes tersebut cenderung untuk menunjukkan tingkat reliabilitas yang tinggi.
7.    Motivasi Individu
Motivasi masing-masing individu dalam  mengerjakan suatu instrumen akan mampu mempengaruhi realibilitas. Perbedaan motiviasi antar   individu dalam kelompok akan menimbulkan kesalahan acak pada pengukurannya karena individu yang tidak memiliki motivasi tidak akan mengerjakan instrumen tersebut dengan sungguh-sungguh sehingga jawaban yang diberikan tidak akan mencerminkan kenyataan yang sebenarnya.

Macam-Macam Cara Mengetahui Tingkat Reliabilitas
1.    Metode Tes Ulang
Metode tes ulang adalah penggunaan tes yang sama dua kali pada sejumlah peserta tes yang sama.
2.    Metode Setara
Metode setara adalah  dua tes setara yang mampu menghasilkan skor yang sama atau setara pula bagi kelompok peserta tes yang sama tanpa mengulang penggunaan tes yang sama.
Rumus yang dipakai untuk menghitung tingkat reliabilitas suatu  instrumen dengan metode tes ulang atau metode setara adalah rumus Pearson product moment dengan syarat skor yang diperoleh adalah berbentuk data interval. Apabila data yang diperoleh adalah data iordinal maka rumus yang dipakai adalah Spearman rank-order.

Teknik Pengujian Reliabilitas Tes Hasil Belajar Bentuk Obyektif
1.    Single Test – Single Thrial Method.
2.    Pendekatan Single Test – Single Thrial dengan menngunakan Formuula Spearman-Brown Model Belahan Kiri dan Kanan.
3.    Pengujian reliabilitas tes hasil belajar bentuk obyektif dengan menngunakan pendekatanm Alternate Form (Double tesrt-Double Trial).
4.    Metode tes ulang (test- retest method).

Validitas

1.    Pengertian Validitas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia bahwa Validitas diartikan sebagai sifat benar, menurut bukti yang ada, logika berfikir, atau kekuatan hukum. Menurut Diknas bahwa validitas adalah kemampuan suatu alat ukur untuk mengukur sasaran ukurnya Sedangkan menurut Wiki pedia Indonesia diterjemahkan , kesahihan, kebenaran yang diperkuat oleh bukti atau data.
Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya.
Sisi lain dari pengertian validitas adalah aspek kecermatan pengukuran. Suatu alat ukur yang valid tidak hanya mampu menghasilkan data yang tepat akan tetapi juga harus memberikan gambaran yang cermat mengenai data tersebut.
Dengan demikian kata valid sering diartikan dengan tepat, benar, sahih, absah, sehingga kata valid dapat diartikan ketepatan, kebenaran, kesahihan, atau keabsahan.
Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Validitas adalah kesahihan pengukuran atau penilaian dalam penelitian. Dalam analisis isi, validitas dilakukan dengan berbagai cara atau metode sebagai berikut.
1.    Pengukuran produktivitas (productivity), yaitu derajat di mana suatu studi menunjukkan indikator yang tepat yang berhubungan dengan variabel.
2.    Predictive validity, yaitu derajat kemampuan pengukuran dengan peristiwa yang akan datang.
3.    Construct validity, yaitu derajat kesesuaian teori dan konsep yang dipakai dengan alat pengukuran yang dipakai dalam penelitian tersebut.
Validitas atau kesahihan menunjukan pada kemampuan suatu instrumen (alat untuk mengukur); mengukur apa yang harus diukur atau ditimbang. Timbangan inilah merupakan alat ukur yang valid dalam suatu kasus yang membutuhkan jawaban.

2.    Macam-macam Validitas
Menurut Suharsimi ada dua jenis validitas yaitu validitas logis dan validitas empiris. Sementara Retno validitas itu terbagi menjadi lima tipe yaitu validitas tampang (face validity), validitas logis (logical validity), validitas vaktor (factorikal validity), Validitas isi (conten validity), dan validitas empiris (empirical validity).
Sedangkan menurut Anas ternik pengujian validitas hasil belajar secara garis besar dapat dibagi dua, yaitu pengujian validitas tes secara rasional dan pengujian validitas tes secara empirik.

3.    Prosedur Validitas
Untuk mengetahui sebuah instrumen atau tes telah valid atau tidak dengan melihat kesesuaiannya dengan hasil yang dicapai. Untuk mengetahui validitasnya terkadang harus melakukan pengujian (tray out) berulang-ulang. Adapun tekhnik-tekhnik yang digunakan untuk mengetahui sebuah instrumen sebagaimana yang dikemukakan Retno, sebagai berikut.
a.    Pengukuran dengan mengunakan alat pengukur baru (predictor) kepada sampel subjek untuk validitas (standardization group).
b.    Standardization group dikenai observasi atau pengukuran lain (criterion).
c.    Dengan teknik korelasi ditentukan ada tidaknya kecocokan predictor dengan criterion.

4.    Faktor-faktor yang mempengaruhi Validitas
Menurut Retno ada beberapa hal yang mempengaruhi validitas alat pengukur sebagai berikut:
1.    Faktor di dalam tes itu sendiri, diantaranya:
a.    Petunjuk pengerjaan tes yang tidak jelas.
b.    Istilah / kata- kata dan susunan kalimat dalam item (soal) terlalu sukar.
c.    Tingkat kesukaran dari item- item tes yang tidak memenuhi syarat.
d.    Susunan item tes yang kurang baik.
e.    Kekaburan dalam statemen (pernyataan/ungkapan) yang menyebabkan salah tafsir.
f.    Kualitas dari item- item tes yang tidak memadai untuk mengukur hasil belajar.
g.    Tes terlalu pendek.
h.    Cara menyusun item- item tes tidak runtut.
i.    Dalam tes objektif pola susunannya, urutan jawaban mudah ditebak.
2.    Faktor berfungsinya isi dan prosedur mengajar.
3.    Faktor dalam respon siswa, ini terjadi jika :
a.    Siswa mengalami gangguan emosional dalam menjawab tes.
b.    Siswa hanya cendrung menerka-nerka dalam menjawab tes.
4.    Faktor dalam mengadministrasi tes dan pembijian.
a.    Karena kurang waktu.
b.    Karena siswa mendapat “pertolongan” yang tidak sah.
c.    Cara pembijian hasil tes yang tidak reliabel.
d.    Gangguan situasi sekitar pada saat tes.
5.    Status dari kelompok dan kriterium.
a.    Tes yang cukup valid untuk kelompok tertentu belum tentu valid untuk kelompok lain, karena faktor usia, jenis kelamin, tingkat kemampuan, latar belakang pendidikan dan kebudayaan.
b.    Penggunaan kriterium dalam menilai koofisien validitas, kita harus mempertimbangkan hakekat penggunaan kriterium.

Selasa, 04 Maret 2014

PAP, PAN, dan PAG

1. Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Penilaian Acuan Patokan (PAP) biasanya disebut juga criterion evaluation merupakan pengukuran yang menggunakan acuan yang berbeda. Dalam pengukuran ini siswa dikomperasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan instruksional, bukan dengan penampilan siswa yang lain.

Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tegantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional.

Apabila dalam penentuan nilai hasil tes belajar itu digunakan acuan kriterium (menggunakan PAP), maka hal ini mengandung arti bahwa nilai yang akan diberikan kepada siswa harus didasarkan kepada standar mutlak (standar absolute), artinya pemberian nilai pada siswa itu dilaksanakan dengan jalan membandingkan antara skor mentah hasil tes yang dimiliki oleh masing-masing individu siswa, dengan skor maksimum ideal yang mungkin dapatdicapai oleh siswa, kalau saja seluruh soal tes dapat dijawab dengan benar.

Karena itu maka pada penentuan nilai yang mengacu kepada kriterium atau pada patokan ini, tinggi rendahnya atau besar kecilnya nilaiyang diberikan kepada masing-masing individu siswa, mutlak ditentukan olehbesar kecil atau tinggi rendahnya skor yang dapat dicapai oleh masing-masing siswa yang bersangkutan.Itu lah sebabnya mengapa penentuan nlai dengan mengacu kepada kriterium sering disebut sebagai penentuan nilai secaramutlak (absolute) atau penentuan nilai secara individual.

Disamping itu karena penetuan nilai seorang siswa dilakukan denagan jalan membandingkan skor mentah hasil tes dengan skor maksimum idealnya, maka penentuan nilai yang beracuan pada kriterium ini sering juga dikenal dengan istilah penentuan nilai secara ideal, atau penentuan nilai secara teoritik, atau penentuan nilai secara das sollen. Sebagai contoh rumus yang dapat digunakan adalah:
                     Nilai = skor mentah / skor maksimum ideal x 100

Selanjutnya nilai-nilai yang berhasil dicapai masing-masing siswa ditransfer atau diterjemahkan menjadi nilai huruf dengan patokan-patokan yang telah disepakati masing-masing lembaga/institute/universitas. Misalanya:
Nilai 85 keatas = A
Nilai 75 – 84 = B
Nilai 65 – 74 = C
Nilai 55 – 64 = D
Nilai dibawah 55 = E

Penilaian beracuan patokan, sangat baik atau sangat cocok diterapkan pada tes-tes formatif, diamana guru ingin mengetahui sudah sampai sejauh manakah peserta didiknya telah terbentuk, setelah mereka mengalami pengajaran dengan jangka waktu tertentu. Dengan menggunakan PAP ini,guru dapat mengetahui beberapa orang siswa yang tingkat penguasaanya tinggi, sedang maupun rendah, maka guru tersebut akan dapat melakukan upaya-upaya yang dipandang perlu agar tujuan pengajaran dapat tercapai secara optimal.

Namun PAP ini jangan digunakan dalam pengolahan atau penentuan nilai hasil tes sumatif, seperti pada ulangan umum dalam rangka mengisi raport, atau pada ujian akhir dalam rangka mengisi nilai ijazah maupun penentuan kelulusan seperti yang terjadi pada ujian akhir nasional yang banyak menuai kontroversi, karena penilaian acuan patoakan ini dalam penerapannya sama sekali tidak mempertimbangkan kemampuan kelompok (rata-rata kelas) sehingga dikatakan kurang manusiawi, maka dengan penerapan penilaian patokan dalan tes sumatif bias menyebabkan sebagian besar siswa dinyatakan tidak naik kelas.Kelemahan lain adalah bahwa apabila butir-butir soal yang dikeluarkan terlalu sukar, maka siswa betapapun pandainya akan memperoleh nilai-nilai rendah, sedengkan jika butir-butir soal terlalu yang rendah, mahasiswa betapa bodohnyapun akan memperoleh nilai-nilai yang tinggi. Dalam hubungan ini maka penilaian beracuan kriterium menggunakan standar mutlak itu sebaiknya diterapkan pada tes hasil belajar itu mengalami uji coba decara berulang kali dan telah memberikan bukti nyata bahwa tes tersebut sudah memliki sifat handal, baik dilihat dari segi realiabitasnya.

2. Penilaian acuan norma (PAN)
PAN  ialah  penilaian  yang  membandingkan  hasil  belajar  mahasiswa terhadap hasil dalam kelompoknya. Pendekatan penilaian ini dapat dikatakan sebagai  pendekatan  “apa  adanya”  dalam  arti,  bahwa  patokan  pembanding semat–mata  diambil  dari  kenyataan–kenyataan. Ada beberapa ciri-ciri dalam penilaian yang berbasis PAN antara lain:

a.  Penilaian Acuan Normatif digunakan untuk menentukan status setiap peserta didik terhadap kemampuan peserta didik lainnya. Artinya, Penilaian Acuan Normatif digunakan apabila kita ingin mengetahui kemampuan peserta didik di dalam komunitasnya seperti di kelas, sekolah, dan lain sebagainya.

b.  Penilaian Acuan Normatif menggunakan kriteria yang bersifat “relative”. Artinya, selalu berubah-ubah disesuaikan dengan kondisi dan atau kebutuhan pada waktu tersebut.

c.  Nilai hasil dari Penilaian Acuan Normatif tidak mencerminkan tingkat kemampuan dan penguasaan siswa tentang materi pengajaran yang diteskan, tetapi hanya menunjuk kedudukan peserta didik (peringkatnya) dalam komunitasnya (kelompoknya).

d.  Penilaian Acuan Normatif memiliki kecendrungan untuk menggunakan rentangan tingkat penguasaan seseorang terhadap kelompoknya, mulai dari yang sangat istimewa sampai dengan yang mengalami kesulitan yang serius.

e.    Penilaian Acuan Normatif memberikan skor yang menggambarkan penguasaan kelompok.
Pada dasarnya penilaian yang menggunakan acuan norna menggunakan kurva normal sebagai alat untuk membandingkan atau menafsirkan angka yang diperoleh masing-masing siswa.Dengan demikian maka patokan dapat berubah-ubah dari kurva normal yang satu dengan kurva normal yang lainnya. Jadi jika hasil ujian siswa mendapatkan nilai yang baik maka patokanya pun juga ikut naik sebalikanya jika hasil ujiannya kurang baik maka patokan yang dipakai juga akan ikut turun. Dalam penerapan PAN penenpatan skor siswa dilakukan tanpa memandang kesulitan suatu tes secara teliti.Namun demikian dalam penerapan PAN seringkali dianggap tidak adil dan membuat persaingan yang tidak sehat atar siawa.
    Contoh acuan norma dalam menetukan nilai siswa.
Dalam kelas matematika, peserta tes terdiri dari 9 orang dengan skor mentah 50, 45, 45, 40, 40, 40, 35, 35, dan 30. Jika menggunakan pendekatan penilaian acuan normal (PAN), maka peserta tes yang mendapat skor tertinggi (50) akan mendapat nilai tertinggi, misalnya 10. sedangkan mereka yang mendapat skor di bawahnya akan mendapat nilai secara proporsional, yaitu 9, 9, 8, 8, 8, 7, 7, 6. Nilai-nilai tersebut diperoleh secara transpormasi sebagai berikut:
Skor 50 dikonversi menjadi nilai 10 sebagai nilai tertinggi yang dicapai peserta tes, yang diperoleh dengan cara:
    50/50×10=10
    45/50×10=9,5
    45/50×10=8
    35/50×10=7
    35/50×10=6
3. Penilaian Acuan Gabungan (PAG) 
-  Gabungan antara PAP dan PAN.
-  Diperlukan untuk butir soal yang memerlukan.
- Diperlukan untuk butir soal yang memerlukan syarat minimal penguasaan/kompetensi tertentu tetapi masih memberi penghargaan tingkat-tingkat nilai, seperti A untuk nilai terbaik dalam kelompoknya, dan seterusnya memberikan nilai B, C, dan D sesuai dengan prestasi yang dicapai siswa.
Langkah-langkah
   - Tentukan terlebih dahulu persentase minimal penguasaan materi.
   - Membuat kurva normal khusus bagi mereka yang sudah melampui batas minimal.
   - Kurva normal dibagi dalam 4 daerah skala.
   - Kurva normal dibagi dalam 4 daerah skala sigma, dengan jarak masing-masing 1,5 S
A = +1,5 S sampai dengan +3,0 S
B = 0,0 S sampai dengan +1,5 S
C = -1,5 S sampai dengan 0,0 S
D = -3,0 S sampai dengan -1,5 S

Senin, 03 Maret 2014

Perbedaan Tes dan Non Tes

Tes:
1.    Mengukur kemampuan kognitif selain itu juga mencakup aspek afektif dan psikomotorik.
2.    Kuantitatif
3.    Kebenaran jawabannya bersifat mutlak karena hanya ada satu jawaban yang dibenarkan.

Non tes:
1.    Mengukur kemampuan afektif dan psikomotor.
2.    Kualitatif.
3.    Kebenaran jawabannya bersifat relatif karena akan terdapat beberapa variasi kebenaran dari  jawaban (kemungkinan jawaban bergantung pada testee).

Klasifikasi Tes
1.    Berdasarkan fungsinya
a.   Tes seleksi. Misalnya: SNMPTN
Tes ini berfungsi sebagai penyeleksi

b.    Tes awal/Pre-test
Tes ini berfungsi untuk mengetahui kemampuan awal siswa sejauh mana materi prasyarat dan materi yang akan diajarkan dikuasai. Selain itu, tes ini juga digunakan untuk menguji kehomogenan dua atau lebih kelas/grup.

c.    Tes Akhir/Post-test
Tes akhir adalah tes yang dilaksanakan di akhir pembelajaran untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan.

d.    Tes Diagnostik
Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk mengetahui kesulitan belajar siswa.

e.    Tes Formatif
Tes formatif adalah tes yang dilaksanakan pada akhir suatu program pembelajaran dalam kurun waktu tertentu. Misalnya: ulangan harian

f.    Tes Sumatif
Tes sumatif adalah tes yang dilaksanakan setelah sebuah program pembelajaran selesai dalam jangka waktu tertentu. Misalnya: UN dan UAS.

2.    Berdasarkan Respon yang Diharapkan
a.    Tes Verbal
b.    Tes Non-verbal

3.    Berdasarkan Bentuk Pertanyaan yang Diberikan
a.    Tes Objektif
       Contoh: Tes pilihan ganda, tes menjodohkan, tes benar salah, dan tes jawaban singkat.
b.    Tes Subjektif
       Contoh: Tes uraian

Contoh Non tes
1.    Wawancara
2.    Observasi
3.    Kuesioner/Angket
    Dalam sebuah angket biasanya digunakan penskalaan.Skala terdiri atas, skala likert, skala semantik diferensial, dan skala Gutzman.
4.    Seleksi berkas
5.    Daftar riwayat hidup
6.    Portofolio
       Portofolio adalah laporan lengkap tentang kegiatan yang dilakukan siswa dalam waktu tertentu.
7.    Proyek
   Penilaian merupakan penilaian yang mencakup perencanaan, penyelidikan analisis proyek/kegiatan.
8.    FGD (Focus Group Discussion)
      FGD merupakan teknik pengambilan data melalui hasil diskusi kelompok yamg terdiri dari 5-8 orang yang umumnya dipandu/dipimpin oleh pengumpul data.

Tes, Pengukuran, Penilaian, dan Evaluasi



1. Tes
Istilah ini berasal dari bahasa latin “testum” yang berarti sebuah piringan atau jambangan dari tanah liat. Istilah ini dipergunakan dalam lapangan psikologi dan selanjutnya hanya dibatasi sampai metode psikologi, yaitu suatu cara untuk menyelidiki seseorang. Penyelidikan tersebut dilakukan mulai dari pemberian suatu tugas kepada seseorang atau untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu.
Tes adalah suatu pertanyaan atau tugas/seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait/atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar (Ebel dan Frisbie 1996; Sax 1980; Lehmann 1973; Zainul 1995).
Menurut Riduwan ( 2006: 37) tes sebagai instrumen pengumpulan data adalah serangkaian pertanyaan / latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu / kelompok.
Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu sertadalam kondisi yang memenuhi syarat-syarat tertentu yang jelas.
Tes merupakan seperangkat tugas yang harus dikerjakan atau sejumlah pertanyaan yang harus dijawab oleh peserta didik untuk mengukur tingkat pemahaman terhadap cakupan materi yang dipersyaratkan.
Contoh : 25 soal/pertanyaan dalam bentuk pilihan ganda.

2. Pengukuran
Pengukuran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas “sesuatu”. Kata “sesuatu” bisa berarti peserta didik, guru, gedung sekolah, meja belajar, papan tulis, dll. 
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha memperoleh deskripsi numerik dari suatu tingkatan dimana seseorang peserta didik telah mencapai karakteristik tertentu.
Pengukuran adalah proses atau kegiatan untuk memberi kuantitas terhadap sesuatu.
Contoh: Seorang pendidik memberikan tes. Hasil tes tersebut akan menghasilkan nilai berdasarkan kriteria pengskoran.
3. Peniaian
Penilaian atau assessment adalah kegiatan menentukan nilai suatu objek, seperti baik-buruk, efektif-tidak efektif, berhasil-tidak berhasil, dan semacamnya sesuai dengan kriteria atau tolak ukur yang telah ditetapkan sebelumnya.
Penilaian adalah proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk memperoleh informasi dalam rangka untuk mengambil keputusan dengan kriteria tertentu.
Contoh:Si pendidik melakukan pengolahan skor dengan pendekatan tertentu sehingga nilai-nilai itu memilki makna tidak menguasai, mengusai dan sangat menguasai.

4. Evaluasi
Evaluasi adalah kegiatan yang mancakup pengukuran dan penilaian dan hasilanya digunakan untuk perbaikan selanjutnya.
Evaluasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses penilaian untuk mengambil keputusan yang menggunakan seperangkat hasil pengukuran dan berpatokan kepada tujuan yang telah dirumuskan.
Contoh: Si pendidik menilai seluruh komponen pembelajaran (tujuan, materi, metode, media, sumebr belajar, penilaian guru, peserta didik dan lingkungan).
 

Blogger news

Blogroll

About